Beberapa minggu lalu, seorang kawan lama yang memiliki bisnis perlengkapan rumah tangga mengeluh panjang lebar. Dia sudah menghabiskan jutaan rupiah untuk menyewa fotografer produk, membuat video Reels setiap hari, dan mematuhi semua tips dari tutorial media sosial yang berseliweran di internet. Hasilnya? Jangankan closing pesanan, akunnya bahkan sepi dari interaksi manusia nyata. Like mentok di angka belasan, dan kotak masuk Direct Message (DM) lebih sering diisi pesan spam penawaran followers palsu.
Kisah seperti ini bukan hal baru bagi saya. Di lapangan, banyak pemilik bisnis dan pemasar terjebak dalam ilusi kerja keras tanpa peta. Kita merasa sudah berdarah-darah membuat konten, padahal sebenarnya kita hanya menebak-nebak apa yang diinginkan algoritma. Mengandalkan intuisi semata di Instagram sama saja dengan berlayar di tengah badai tanpa kompas.
Mari kita buka data