Kisah Pengemis Buta Dan Kekuatan Kata-Kata

kekuatan kata-kata

Anda pernah mendapatkan pujian kan?

Saya yakin bahwa sesaat setelah mendapat pujian tersebut suasana hati Anda merasakan nyaman dan gembira sehingga membuat Anda semakin mantap dan percaya diri.

Lalu..

Apakah Anda juga pernah mendapatkan cacian? cemo'oh bahkan hinaan?
Ketika mendengar seseorang yang mengatakan suatu hal negatif tentang diri Anda pastilah suasana hati Anda akan sangat jauh berbeda dibandingkan ketika menerima pujian. Tersinggung, marah, kesal dan reaksi emosional lainnya meletup didalam hati.

Betapa kata-kata memiliki peranan sangat penting bagi kehidupan manusia. Kehidupan kita tidak terlepas dari kata-kata yang memiliki dampak begitu dahsyat. Kekuatan ini dapat kita kendalikan untuk memberikan manfaat bagi kita dengan berbicara, mendengar, membaca, dan berpikir positif.

Alkisah..

Di pinggiran keramaian kota ada seorang pengemis tua dengan usia berkisar antara 58 sampai 60 tahunan. Dia buta, dengan jaket lusuh duduk di trotoar sambil memegang kertas yang bertuliskan "Saya buta, tolong bantu saya". Didepan pengemis tersebut ada kardus bekas yang digunakan untuk menampung uang pemberian.

Dari sekian banyak orang yang lalu lalang melewati pengemis tersebut, nampak hanya beberapa saja yang memiliki rasa belas kasihan dan mau melemparkan uang recehan dalam kardus si pengemis.

Hingga akhirnya ada seorang wanita muda berjalan dengan terburu-buru di trotoar dan melewati pengemis tadi. Kira-kira sudah melewati dua langkah dari tempat si pengemis, wanita muda tadi berhenti sejenak dan berbalik langkah menghampiri. 4 detik lamanya si wanita diam memperhatikan dan nampak memiringkan kepalanya membaca tulisan yang dipegang oleh pengemis itu.


kekuatan kata-kata positif

Segera dia mengeluarkan spidol dari dalam tasnya, meminjam kertas yang sedang dipegang oleh pengemis. Tanpa ada sepatah kata pun, si wanita menulis sesuatu dikertas sebaliknya. Sedangkan pengemis tersebut sedikit merasa terkejut ketika ada seseorang yang mengambil kertasnya.

"Apa yang sedang Anda lakukan?" Kata si pengemis dengan kedua tangannya sambil mencoba meraba sepatu si wanita, mencoba mengenali siapa yang berdiri di hadapannya saat itu. Si pengemis menyentuh hak sepatu tinggi, sehingga dia tahu bahwa saat ini yang berada didepannya adalah seorang wanita. Tapi si wanita tidak menjawab pertanyaan itu, dia terus melanjutkan menulis hingga selesai.

Kertas yang ditulis tadi dikembalikan lagi kepada si pengemis dengan posisi sebaliknya, menampakkan tulisan si wanita tadi. Lalu dia kembali berjalan dan meninggalkan pengemis itu.

Apa yang terjadi...

Beberapa menit setelahnya, orang-orang yang berjalan di trotoar dan melewati pengemis itu banyak yang memberikan uang. Tentu saja si pengemis merasa senang dengan banyaknya uang yang terkumpul. Dalam hatinya masih merasa heran, apa gerangan yang sudah terjadi, apa yang dilakukan wanita tadi??

Ternyata...

Wanita muda tadi menuliskan kata-kata seperti ini: "Cuaca kota di hari ini begitu indah, tapi sayangnya, Tuhan hanya mengijinkan saya untuk menikmati tanpa bisa melihatnya". Dengan kata-kata yang dituliskan wanita itu ternyata lebih mampu menggugah empati orang-orang yang membacanya meski hanya sekilas.

Kekuatan kata-kata laksana pedang bermata dua. Jika digunakan tidak tepat, maka akan membawa bencana. Dan sebaliknya, jika digunakan dengan tepat, kata-kata dapat memberikan energi positif kepada orang lain dan tentu juga kepada yang mengucapkan.

Dengan kata-kata, kita bisa memuliakan sesama namun bisa juga saling membinasakan.
Dengan kata-kata, kita bisa menyakiti orang lain, tapi bisa juga menginspirasi orang lain.

Sobat... sudah baikkah perkataan kita selama ini?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [QS Al-Ahzab : 70-71]

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” [HR Bukhari-Muslim]