Pilih Kesengsaraan Sesaat atau Kenikmatan Sesaat | Motivasi Ekspektasi

pengertian motivasi ekspektasi adalah

Suatu hari saya diminta oleh pengurus organisasi kemahasiswaan di tingkat jurusan yang ada di FKIP Unpas Bandung untuk menyampaikan materi Motivasi Ekspektasi kepada para calon fungsionaris baru. Jadi ceritanya pada jaman dahulu kala (waduhh berasa dongeng, hehe) saya pernah menjadi anggota dan sempat juga menjadi ketua umumnya pada tahun 2006 ketika masih giat menjadi aktifis kampus. Nama organisasinya adalah HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Matematika).

Honestly, sangatlah berat mendapatkan amanah untuk memotivasi orang lain. Mengingat motivasi bukanlah doktrin atau sekedar teori belaka. Motivasi sejatinya harus tumbuh dari dalam diri seseorang secara sadar dengan atau tanpa adanya pengaruh dari luar. Akan tetapi saya tetap berharap dengan waktu yang tersedia saat itu adalah 60 menit, bisa memberikan inspirasi kepada calon pengurus dan saya pribadi pun bisa mendapatkan motivasi dari moment singkat tersebut.

Ketika saya datang menuju ruangan, disambut oleh salah seorang panitia yang langsung menyodorkan secarik kertas curiculum vitae untuk saya isi, sementara menunggu peserta masuk kedalam ruangan. Lalu moderator bertanya kepada saya mengenai softcopy materi yang akan disampaikan agar panitia bisa menanyangkannya di slide infokus. Tapi saya tidak memberikannya, karena saya bilang bahwa materinya akan saya tulis dan upload di website ini. Hehehe


Nah ini dia penampakkannya, saya buat materi dalam bentuk gambar.
Klik untuk melihat lebih besar

Dihadapan kurang lebih 25 orang dalam satu ruangan, moderator membacakan CV yang tadi saya isi. Dan setelah itu segera mempersilahkan saya untuk menyampaikan materi Motivasi Ekspektasi. Saya tidak panjang lebar untuk perkenalan karena toh tadi sudah dibacakan biodata saya.

Pilih Mana, Kenikmatan atau Kesengsaraan?


Naluri alamiah manusia dalam menjalani hidup akan memilih untuk mendekati kenikmatan dan menjauhi kesengsaraan. Saya yakin bahwa tidak ada satu orangpun di dunia ini yang menginginkan hidup sengsara. Semua pasti ingin kenikmatan hidup, terlebih lagi kenikmatan di akhirat kelak.

Ketika saya bertanya kepada mereka mengenai pilihan antara kenikmatan dan kesengsaraan, mereka semua sepakat dan serentak menjawab untuk memilih kenikmatan daripada kesengsaraan. Ketika dihadapkan pada pilihan, antara hidup kaya dan hidup biasa saja secara reflek otak manusia akan memilih hidup kaya. Dan ketika diberikan pilihan antara hidup biasa saja dan hidup miskin, otak manusia akan cenderung memilih hidup biasa saja. Karena anggapannya bahwa hidup biasa saja tidak seburuk hidup miskin

Akan tetapi, tidak semua orang memahami mana kenikmatan sesungguhnya dan mana kesengsaraan sesungguhnya. Akibatnya, ketika mereka dihadapkan pada satu kondisi permasalahan akan selalu menghindar. Padahal menghindar sama sekali tidak akan mendekatkan kita pada kenikmatan. Menghindar hanyalah menimbun masalah menjadi semakin besar dan rumit.

Pilih mana, Kenikmatan Sesaat atau Kesengsaraan Sesaat?


Lalu ketika pertanyaan mengenai kenikmatan dan kesengsaraan tersebut saya ganti lebih spesifik menjadi "Pilih mana, kenikmatan sesaat atau kesengsaraan sesaat?" Peserta dalam satu ruangan tersebut menjawab serentak memilih kesengsaraan sesaat.

Nah hal ini yang perlu kita cermati secara seksama. Permasalahan utama yang sering terjadi dalam satu tubuh organisasi kemahasiswaan adalah lemahnya mental dan motivasi untuk mengemban tanggungjawab dari masing-masing personil. Kalau sudah begini, ya otomatis akan lemah juga organisasi tersebut.



Perlu adanya motivasi dari dalam diri sendiri yang tumbuh sebelum memutuskan untuk bergabung menjadi bagian dari pengurus organisasi kemahasiswaan. Berorganisasi di kampus itu tidak dibayar/digaji, sedangkan tugas dan kewajiban sangat berat. Jika seorang pengurus tidak memiliki motivasi kuat, saya yakin tidak akan lebih dari tiga bulan dia aktif berorganisasi. Selebihnya akan kembali lagi kepada komunitas mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang).

Setidaknya ada beberapa catatan yang bisa kita persiapkan sebelum menjadi pengurus,

1. Kenali Tujuan


Apa tujuan Anda menjadi pengurus Himatika? Jangan sampai dalam membuat peta tujuan ini masih bersifat general. Misalnya, ingin mencari pengalaman atau ingin menambah wawasan. Karena ini akan mengakibatkan ketidakjelasan dan mental kita menjadi lemah. Kita harus bisa menanamkan dalam diri kita tujuan spesifik yang ingin dicapai.

Buatlah point-point penting di secarik kertas mengenai tujuan Anda. Itu akan menjadi target diri Anda dalam menjalani tugas dan fungsi sebagai pengurus organisasi. Akan lebih baik lagi ketika Anda bisa membuat tujuan dengan jangka pendek dan jangka panjang. Tanpa adanya tujuan, Anda akan mengalami kebingungan ditengah perjalanan kepengurusan yang akan berdampak kepada kesolidan organisasi tersebut.

Jadi apa tujuan Anda?

2. Pahami Resiko


Dengan menjadi pengurus organisasi, tentu ada resikonya, bahkan banyak looh.. (hiiyh takuuuut hehe). Anda akan dibenturkan dengan kesulitan membagi waktu antara kuliah dan berorganisasi. Nantinya kesibukan Anda bukan lagi sekedar untuk kuliah dan mengerjakan tugas harian dari dosen. Tapi ada tugas kelembagaan yang harus Anda selesaikan dan ini membutuhkan pengorbanan waktu dari Anda. Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjadi mahasiswa akan banyak mendapatkan tugas dari dosen, baik itu individu maupun berkelompok.

Dengan memahami resiko tentu saja bukan bermaksud untuk menakuti atau "mempertakut" (baca ala Vicky. Hahaha). Akan tetapi justru harus mempersiapkan diri Anda untuk menghadapinya. Salah satu kunci agar bisa membagi waktu adalah dengan membiasakan hidup dispilin. Kapan harus kuliah, kapan harus berorganisasi, kapan harus istirahat dan sebagainya. Catat! "Orang sibuk bukanlah orang yang diatur oleh waktu, melainkan orang yang bisa mengatur waktu"

Nah....Sudah siap dengan resiko itu apa belum?

3. Fokus Memberi, Akan Mendapat Lebih Banyak


Jika Anda bertanya dalam hati seperti ini, "apa yang bisa saya dapatkan dengan menjadi pengurus Himatika?" Maka jawabannya adalah "NOTHING!"Anda tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali jenuh dan capek.

Himatika hanya berfungsi sebagai wadah, bukan sebagai tempat kursus berorganisasi atau akademi yang akan memberikan Anda ilmu dan pengalaman jika Anda tidak terlibat aktif menjalankan perannya sebagai pengurus. Fokuslah untuk banyak memberik, dengan begitu justru Anda akan semakin banyak mendapatkan hal berharga yang mungkin belum pernah Anda dapatkan sebelumnya.

Buatlah sejarah, cerita membanggakan ketika Anda menjadi seorang pengurus. Sehingga kelak akan menjadi contoh dan inspirasi bagi generasi sesudah Anda.  Jangan sekedar ikut-ikutan, cobalah untuk menuangkan gagasan yang diterima dan bermanfaat untuk orang banyak. Ingat, jangan menjadi seorang yang suka meminta, baik itu meminta perhatian ataupun meminta untuk dihargai. Lakukan saja yang terbaik, maka lingkungan tidak akan salah menilai siapa diri Anda.

4. Siap Bersosialisasi


Jangan pasif, jangan menunggu untuk diajak. Sebagai seorang fungsionaris kelak, mestinya Anda-lah yang mengajak kepada lainnya, bukan sebaliknya. Peran serta dalam setiap momen baik besar maupun kecil akan menentukan siapa diri Anda. Sejatinya, kepemimpinan bukanlah gelar atau hasil dari SK semata. Melainkan pemikiran dan tindakan yang dilakukan secara terus menerus.

Lawan rasa malu saat berbicara dalam forum internal maupun eksternal. Dalam kehidupan bermasyarakat kelak, Anda akan dituntut untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain, baik itu di tempat kerja maupun di masyarakat. Membiasakan diri untuk berani berbicara akan memberikan efek yang luar biasa, dapat mengasah kepercayaan diri Anda.

Oke, kiranya cukup sampai disini dulu coretan tinta digital ini. Semoga bisa memberikan inspirasi kepada pembaca, khususnya peserta pembekalan calon pengurus HIMATIKA FKIP UNPAS.